skip to content

Tugas Manusia Hanya Beribadah

Apa lagi sih tujuan manusia yang lainnya?

Kalau di postingan-postinganku sebelumnya, seakan-akan tujuan manusia (atau tujuanku sih) cuma uang. Tapi, benar nggak sih bahwa manusia itu diciptakan untuk mengejar uang? Padahal, uang itu kan sama dengan manusia; fana. Terutama, uang itu hanyalah materi yang diciptakan oleh manusia atas kepercayaan manusia terhadap suatu kertas yang dianggap bernilai. Rendah banget sih kalau tujuan kita cuma itu.

Kembali kita mengingat salah satu ayat:

وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون

Dan sesungguhnya Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk mereka beribadah.

Dari ayat ini, kita berkesimpulan bahwa tujuan kehidupan jin dan manusia itu ya untuk ibadah aja. Lantas, apakah dengan tujuan yang hanya satu ini membuat kehidupan kita menjadi sempit dan hanya di masjid aja seharian? Tentu nggak.

Apa sih ibadah itu?

Tau nggak, bahwa apapun yang kita lakukan itu senantiasa bisa bernilai ibadah atau bernilai dosa. Yap, kamu nggak salah dengar. Semuanya. Semua aspek kehidupan kita senantiasa terkait dengan syariat yang telah ditetapkan oleh-Nya. Contohnya aja, senyum itu sedekah; sabar dan bersyukur itu ibadah; menyingkirkan gangguan di jalan (seperti paku misalnya) itu malah termasuk iman; dan seterusnya.

Lalu, marah itu bisa bernilai dosa; riba itu dosa; menolak hukum Allah itu termasuk dosa; berzina itu dosa (apalagi berzina dengan sesama jenis); mencari-cari kesalahan orang lain itu dosa; dan seterusnya.

Jadi, semua itu terikat dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh-Nya

Eh, kok aku baru tau ya syariat-syariat itu?

Ya kita selama ini ke mana aja sih? Berapa sih umur kita sekarang? 40 tahun? 50 tahun? Atau, masih 20 tahun? Tidak adakah yang mengajarkan agama Islam ke kita selama ini? Fatal banget loh kalau kita nggak tau syariat. Bisa-bisa di akhirat nanti, amalan kebaikan kita sangat sedikit karena kita sendiri yang “malas” mempelajari syariat.

Jadi ya, minimal buka YouTube, nonton ceramah Ustadz-Ustadz.

Jangan sampai, di akhirat kelak, kita baru menyesal atas kesalahan yang telah kita lakukan. Karena, di akhirat, kita tidak bisa kembali lagi ke dunia ini. Kita tidak bisa kembali lagi ke masa-masa yang telah berlalu. Kita tidak bisa kembali lagi ke masa-masa yang telah kita lewatkan untuk mempelajari syariat. Atau, paling nggak, kita menyesalnya baru ketika kematian sudah berada di hadapan kita.

Jadi, nggak ada nunggu nanti dulu baru belajar syariat. Apalagi kan kita semua sudah baligh, sudah dimintai pertanggungjawaban atas segala amalan yang kita lakukan. Nah, nunggu apa lagi coba?